Written on
December 21, 2007 – 1:39 am | by daksinapati
LAPORAN HASIL
ASESMEN
- Screening
dan Identifikasi
Kepala Sekolah menjelaskan bahwa semula AY bersekolah di SDN Slipi 017
Pagi. Duduk di kelas lima. Ay memang
dikenal sebagai pengacau kelas. Tidak mau mengerjakan tugas dari guru. Dan
menurut penuturan kepala sekolah AY mungkin memiliki IQ yang rendah. Karena
sebuah peristiwa yang belum lama berlangsung (sekitar awal November), AY
dipindahkan ke SLB Persiapan Negeri I Jakarta Barat. Ketika guru Agama sedang
menerangkan lalu menulis ke papan tulis, AY beranjak dari tempat duduknya dan
tanpa sepengetahuan guru Agama AY menarik kursi guru. Guru Agama yang tidak
menyadari bahwa kursinya telah berpindah, langsung duduk tanpa melihat terlebih
dahulu. Hasilnya guru Agama tersebut jatuh terpelanting ke lantai.
2. Observasi
a. Observasi hari pertama (20 November
2007)
Asesor
masuk kelas sekitar pukul 09.00 saat pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan)
tengah berlangsung. Di kelas tersebut terdapat tujuh siswa. Terdiri dari empat
siswa tunarungu, dua siswa tunagrahita, satu siswa tunlaras yaitu AY. Saat itu
satu siswa absen. Selain bervariasi dalam ketunaan, kelas juga diwarnai oleh
jenjang kelas yang berbeda-beda. Tiga siswa kelas IV, satu siswa kelas V, dan satu siswa kelas tunarungu
kelas VII. Siswa duduk dalam satu shof dan Ay berada paling ujung dekat pintu.
AY
telibat perang mulut dengan BD (tunagrahita), guru kemudian keluar kelas. VIP
(tunagrahita) menyanyi dengan lagu yang
mengejek AY. AY tidak terima. VIP dan AY terlibat cekcok. BD berusaha menenangkan
VIP. VIP melawan AY. Guru
masuk dan mereka tidak melanjutkan pertengkaran.
Siswa masih terus menyalin materi dari
papan tulis. AY menyalin sambil bersenandung. Ketika Asesor bercakap-cakap
dengan guru kelas, AY dan VIP betengkar lagi. Setelah melerai Asesor dan guru
kembali bercakap-cakap. Tanpa sadar AY telah keluar kelas (sekiar pukul 09.45).
Seorang siswa tunagrahita dari kelas lain melaporkan bahwa ia melihat AY di
bawah sedang melihat siswa SD bermain sepak bola.
Guru turun ke bawah dan berhasil membawa
AY kembali ke kelas. AY kembali dengan membawa sebuah snack ringan. Asesor
bertanya pada AY.
“AY dari mana?”.
“Jajan”. Jawabnya.
Setelah beberapa menit duduk
AY kembali keluar kelas. Guru
kembali keluar kelas dan menjemput AY. Guru berhasil mendapatkan AY. Asesor
melihat guru menempelkan AY ke tembok (diluar kelas) dan mengatakan sesuatu
kepada AY. Asesor tidak bisa
mendengar karena asesor berada di dalam kelas. AY ditarik masuk ke dalam kelas
sambil menangis. AY membereskan buku lalu memasukkan ke dalam tas dan pulang.
Asesor terkejut
melihat AY pulang. Guru
menjelaskan pada asesor bahwa ia memberi pilihan pada AY. Jika ingin belajar
masuk ke kelas. Tapi jika tidak lebih baik pulang. Ternyata AY memilih pulang.
Asesor mengejar ke bawah. AY sudah sampai di bawah tangga. Pintu tangga
dikunci. Sejak AY pindah ke SLB pintu tangga selalu di kunci agar AY tidak
kabur. Asesor bertanya pada AY apakah Guru mengizinkan ia pulang. AY tidak
menjawab. Hanya menangis. Istri penjaga sekolah yang memegang kunci pun
bertanya demikian. Dan tidak di jawab oleh AY. Istri penjaga sekolah lalu membukakan pintu dan AY
pun pulang.
b. Observasi hari kedua (22 November 2007)
Asesor datang ketika jam
olahraga hampir selesai. Bel istirahat kemudian berbunyi. Setelah istirahat pelajaran IPA dimulai. AY masuk
kelas dengan membawa catur mainan. Pelajaran IPA dimulai. AY masih sibuk dengan
catur mainan sementara guru sudah mulai menulis materi “rantai mkanan” di papan
tulis. AY bisa menjawab pertanyaan yang diajukan untuk seluruh kelas. AY masih
bermain dengan biji-biji catur mainan. Biji-biji catur AY jatuh, lalu guru
menarik lengan AY dan memerintahkan AY menaruh caturnya. AY berjanji akan
menaruh biji catur. Tetapi AY tetap memegang caturnya. AY bisa merespon
pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk seluruh kelas dan jawabannya benar. AY
tetap memegang catur. Guru menarik meja AY dan biji-biji caturnya berhamburan
ke tanah.
AY berkata, “Yah..Ibu”
Guru berkata,”AY kok
susah ya dibilangin?”
Guru memerintahkan AY
memunguti biji catur dan memasukkan bersama kardusnya ke tas. AY memasukkan
catur ke tas tetapi kardusnya dibuang ke tempat sampah yang berada di dalam
kelas. AY mengambil gambar tempel dan menempelkannya pada buku tulisnya. AY
tetap merespon dan tetap memegang gambar tempelnya. AY terlibat aktif..
Guru memerintahkan siswa
mencatat pelajaran yang telah diterangkan. AY boleh tidak menulis karena materi tersebut
sudah diajarkan kemarin. Asesor melihat pekerjaan AY kemarin, Ada gambar rantai
rantai makanan. Asesor menunjuk tulisan Jamur yang ditulis ‘jumur’.
Asesor bertanya, “Ini
bacanya apa?”
“Cacing” (Di atas tulisan
ada gambar cacing dan disampaing tulisan ‘jamur’ ada tulisan ‘cacing’).
“Bukan yang itu tapi yang
ini” kata Asesor sambil menunjuk tulisan ‘jamur’.
“Tau dah, bentar deh” AY
pergi dari kursinya dan membuang sampah.
AY masih berada dekat tempat
sampah. AY berkata bahwa ia
sakit perut dan ingin kentut. AY lalu membuka pintu.
Guru berkata jika ingin
kentut tidak harus keluar. AY berkata bahwa ia sakit perut ingin buang air
besar.
“Boleh berak bu?” Tanya AY.
Guru membolehkan. AY keluar
lalu guru mengikuti. Ternyata
AY tidak pergi ke kamar mandi. AY membeli Air mineral gelas. AY masuk kelas
lalu minumnya diminta oleh guru. AY duduk. Guru memerintahkan AY menulis. AY
menolak dengan alasan capek. AY meminta minumannya. Guru memberi pilihan. Jika
tidak mau mencatat, AY boleh mengerjakan latihan.
Guru tetap meminta AY
menulis. Guru mengambil
ancang-ancang hendak melempar AY dengan spidol. AY mengambil buku dan jam tangan. AY bermain jam tangan. Guru mengancam akan
membuang jam tangannya. AY menundukkan kepala di atas meja sambil menutup
kepala dengan buku. VIP meledek AY. AY memukul VIP dengan buku tetapi pelan. AY
tetap tidak mau menulis. AY dibentak dan digertak terus oleh Guru. AY meledek
VIP ketika VIP sedang meledek teman-teman di luar kelas. AY menempeleng VIP.
VIP membalas. AY mengganggu dengan mengoyang-goyang meja. VIP terganggu. Guru
memarahi AY. AY tetap tidak mau menulis. Guru menasehati. Guru membicarakan
kesalahan AY yang membuat AY dikirim ke SLB. Guru memelintir tangan AY sambil
menasehati.
Pukul 10.03 AY mulai mau
menulis. Tetapi ternyata AY tidak menulis apapun. AY hanya menggambar sesuatu
lalu menghapus. Tidak menulis, hanya bermain kertas. Sampai istirahat kedua AY
tetap tidak mau menulis. Istirahat kedua pukul 10.45.
Bel masuk berbunyi pukul
11.00. AY masuk jam 11.09. AY masuk kelas dan memasukkan kartu-kartu mainan ke
dalam tas. Lalu keluar lagi. Guru mencari dan tidak ketemu. Guru menulis di
papan tulis dan siswa diminta mengambil buku penghubung. AY masuk dan menulis
di buku penghubung. AY menulis dengan mata melihat ke papan tulis dan tangan
menulis. Hanya sekali-sekali AY melihat ke buku.
3. Wawancara
Wawancara lebih difokuskan
pada kemampuan akademik.
- Bagaimana
kemampuan membaca AY ?
Guru SD (GSD): masih sulit membedakan huruf, masih
terbata-bata ketika membaca.
Guru SLB (GSLB): sudah mengenal huruf tetapi masih
tebata-bata. Masih dieja. Menulis pelajaran ”matematika” belum bisa tetapi
menulis namanya sendiri sudah bisa.
- Bagaiman
kualitas menulis AY?
GSD: tulisannya tidak terbaca.
GSLB: tulisannya cukup jelek tetapi guru masih
bisa membaca.Contohnya ’a’ ditulis terbuka seperti ’u’.
- Bagaimana
kemampuan mengarang AY?
GSD: kalau
ada pelajaran mengarang tidak menulis.
GSLB: belum pernah dicoba tetapi mungkin kalau hanya
mengarang di otak tanpa ditulis bisa.
- Bagaimana
kemampuan berhitung AY?
GSD: cukup mampu. Kemampuan berhitung AY lebih
baik dibanding kemampuan akademik yang lain.
GSLB: penjumlahan dan pengurangan bagus. Perkalian
juga bagus. Pembagian sudah dicoba yang ringan dan bisa.
- Bagaimana
kemampuan olahraga AY?
GSD: olahraga bagus dan bersemangat.
GSLB: selama di SLB AY tidak mau ikut olahraga
karena malu dengan teman-temaan di SD.
4. Instrumen (Rating Scale)
Instrumen terlampir diisi oleh guru SD dan SLB.
- Berkaitan
dengan pengendalian diri di kelas (11 Soal)
Guru SD: empat soal sering, dua soal
kadang-kadang, lima soal tidak pernah.
Guru SLB: empat soal sering, tiga soal
kadang-kadang, empat soal tidak pernah.
- Kebiasaan
Belajar dan Bekerja (13 soal)
Guru SD: tujuh soal sering, lima soal tidak
pernah.
Guru SLB: tiga soal sering, enam soal
kadang-kadang, satu soal tidak dijawab.
- Sikap
dan Perilaku dengan Teman Sebaya (enam soal)
Guru SD: semua dijawab sering.
Guru SLB: empat soal sering, dua soal
kadang-kadang.
- Sikap
danPerilaku dengan Orang Dewasa (guru) (delapan soal).
Guru SD: empat soal dijawab sering, satu soal
kadang-kadang, tiga soal tidak pernah.
Guru SLB:dua soal sering, satu soal kadang-kadang,
lima soal tidak pernah.
Analisis Hail Asesmen
Dalam percakapan informal
antara Asesor dan Guru SLB, beliau pernah bertanya pada AY apakah AY lebih
senang berada di SD atau SLB. AY menjawab bahwa ia lebih senag berada di SLB.
Selama pindah ke SLB AY tidak pernah absen. Kecuali untuk pelajaran olahraga AY
tidak mau ikut karena malu dengan teman-teman di SD. Kejadian pulangnya AY pada hari pertama
observasi menurut Guru SLB adalah AY merasa bahwa guru lengah karena ada tamu
di kelas. Kelengahan guru dimanfaatkannya untuk berbuat ulah.
Berdasarkan observasi dan
rating scale yang dilakukan asesor, perilaku yang nampak pada AY ketika berada
di kelas anatara lain; tidak patuh/ tidak mau mengikuti instruksi guru,
mengganggu teman, tidak mau diam (keluyuran), mudah terganggu dengan stimulus
dari luar, mengejek teman. Perilaku AY ini dapat digolongakan dalam istilah
conduct disorder/usocialized aggresion (ketidakmampuan mengenalikan diri). Pada
item ’memberi respon dikelas’ guru SD menjawab tidak pernah. Guru SLB menjawab kadang-kadang, asesor melihat
ketika observasi AY merespon. Perbedaan ini terjadi karena materi pelajaran di
SLB lebih mudah daripada di SD. Hal ini diakui AY menjadi salah satu penyebab
ia lebih senang berada di SLB daripada di SD (berdasarkan pengakuannya pada
Guru SLB). Dan khusus untuk respon yang ditampilkan ketika observasi hari kedua
adalah karena sebelumnya AY telah mendapatkan materi tersebut.
Sebuah hal yang menarik pada dimensi kebiasaan
belajar dan bekerja. Beberapa pertnyaan yang dijawab ’sering ’oleh guru SD
dijawab ’kadang-kadang ’ oleh guru SLB. Terdapat dua kemungkinan. Pertama, ada
kemajuan dengan perilaku AY. Kemajuan ini dapat disebabkan oleh pukulan yang
cukup telak bagi AY karena dipindahkan ke SLB sehingga ia berniat merubah diri.
Kedua, jumlah siswa SLB yang lebih sedikit membuat guru lebih mudah mengawasi
siswa sehingga AY tidak bisa menghindar
dari tugas.
Kemampuan akademik AY berada dibawah rata-rata.
Hal ini bisa disebabkan karena IQ dibawah rata-rata (skor IQ AY belum diketahui).
Atau disebabkan oleh perilaku conduct disorder yang ditampilkannya di kelas
yang membuat AY tidak bisa belajar dengan baik. Kemampuan membaca AY masih setara dengan anak
kelas dua SD. Oleh karena itu untuk persiapan ujian tanggal 10 Desember nanti
Guru SLB menulis pada buku penghubung yang ditujukan untuk Ibu AY agar
mengajarkan AY membaca buku-buku kelas 2A. Baik Guru SLB atau Guru SD sepakat
bahwa kemampuan AY terhadap pelajaran matematika lebih baik dibandingkan
kemampuan AY pada pelajaran lain. Namun pada pelajaran matematika pun ia tidak
meunjukkan minat. Satu-satunya pelajaran yang diminati AY adalah olahraga. Hanya karena malu dengan teman-teman SD,
AY belum pernah mengikuti pelajaran olahraga di SLB.
Saran untuk Penanggulangan Perilaku AY
- Guru
konsisten dalam pengendalian peilaku. Jika suatu saat anak dihukum karena
melakukan suatu pelanggaran dan pada saat yang lain tidak, akan mendorong
anak melakukan pelanggaran.
- memberikan
imbalan atas perilaku positif. Imbalan dapat berupa barang atau pujian.
Dan imbalan yang tidak kalah penting adalah perhataian guru. Terkadang
guru memberikan perhatian justru ketika anak menampakkan perilaku negatif.
Hasil penelitian menunjukkkan bahwa
memberi perhatian waktu anak menunjukkan perilaku baik dan mengabaikan
waktu anak berperilaku tidak baik ternyata membawa hasil positif (Nelson,
Shermen, Bushell, Jimmerman, dan Kauffmann 1985). Hasil penelitian ini
mungkin bisa di coba.
- memberikan
kesibukkan.
Guru dapat memberikan pekerjaan terus menerus agar
anak tidak memiliki kesempatan untuk bermain. Misalnya pada kasus hari kedua. AY memang telah menulis dan
mengerjakan materi ’rantai makanan’ hari
sebelumnya. Dan awalnya guru tidak memerintahkan AY menulis namun dipertengahan
guru memerintahkan AY menulis. Pada saat seperti ini guru bisa memberi materi lain dan menjelaskan bahwa
materi tersebut harus dipelajari agar ia bisa selangkah lebih maju dibanding
teman-teman yang lain.
- Memindahkan
tempat duduk AY di sebelah siswi tunarungu agar AY tidak terstimulus untuk
bertengkar.
- Memberikan
remedial untuk memperbaiki kemampuan akademik AY. Terutama membaca dan
menulis.
- Memperhatikan
dan membimbing AY secara individual ketika AY mengerjakan pekerjaan di
kelas.
- Memanggil
atau mengadakan home visit (kunjungan ke rumah) untuk lebih mengetahui
latar belakang keluarga AY. Sekaligus mencari tahu penyebab raport AY
jarang sekali ditandatangani oleh orang tua. Mencari penyebab perilaku
negatif AY dan bersama orang tua mencari penanggulangannya.
- Melibatkan
orang tua secara aktif untuk mengatasi perilaku AY. Sehingga tercipta
lingkungan yang kondusif baik di rumah maupun di sekolah.
Posted in pendidikan anak | 3 Comments »