sebab-sebab tidak disiplin


Written on May 26, 2008 – 7:50 pm | by daksinapati

 

  1. Kusutnya
         Pikiran.

Tidak mampu membuat satu
keputusan yang benar untuk memecahkan masalah.hal ini disebabkan karena:

    1. Cinta
            dunia.

“Barangsiapa yang perhatiannya
adalah dunia, maka Allah akan menjadikan kefakiran dihadapannya dan mencerai
beraikan kekuatannya sera tidak akan datang kepadanya dunia kecuali yang telah
ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi).

    1. Bingung
            dan Banyak Masalah.

Hal ini menyebakan pikiran kacau
dan banyak masalah.

    1. Gundah
            hati dan hilangnya kesabaran.

Pria yang lemah terkadang
terpukul jiwanya dan kalut fikirannya oleh musibah yang menimpanya. Bukannya ia
mengurangi beban dan keletihan dengan menghadapinya, ia malah larut dalam
kesedihan yang menambah kesusahannya yang tidak dapat merubah kondisi
sedikitpun. (Madarij As Salikin).

    1. Banyak
            bercampur baur (dengan orang yang tidak disiplin).

Ibnul Qoyyim Rahimahullah
berkata, “Adapun dampak negative dari banyaknya bercampur baur dan bergaul
adalah tercemarnya hati oleh debu-debu nafas bani Adam sehingga menghitamkannya
dan menjadikannya cera-berai (tidak focus), rapuh dan dirundung kesusahan,
terkena pengaruh teman jahat, sementara kemaslahatan dan kepentingannya
terkalahkan dan sibuk dengan urusan mereka, fikirannya menjadi bercabang-cabang
dengan mengikuti keinginan teman-temannya itu. Jika begitu, apa yang masih
tersisa darinya untuk Allah dan negeri akhirat?.

    1. Lemahnya
            Tarbiyah (Pendidikan)

Karena biasa dimanjakan oleh orang tua.

  1. Terpengaruh
         Oleh Teman yng Tidak Disiplin dan Hidup Seenaknya.
    1. Keadaan
            keluarga yang kacau.

Hidup di tengah keluarga yang
kacau dan tidak beraturan.

    1. Kawan
            yang hidup sesukanya.

Terpengaruh gaya hidup teman.

  1. Semangat
         menggebu tanpa kendali.

Semangat yang disandarkan pada
emosi dan perasaan yang tidak dikendalikan dan sikap yang tidak ditumpukan pada
dasar dan pegangan yang kuat, maka tidak akan lurus, tidak akan focus, akan
mudah berubah, dan tidak mantap.

  1. Lemahnya Motivasi dan Menuruti
         Hawa Nafsu.
  2. Tidak Adanya Pemantauan dan
         Introspeksi.
  3. Malas-malasan dan Menunda
         Pekerjaan.
  4. Tujuan
         dan Taret Tidak Jelas.
  5. Tidak Menguasai Fiqh Al
         Awlawiyat (skala prioritas).
  6. Tertimpa Berbagai Bencana.
  7. Tidak Ada Pembagian Pekerjaan.

Misalnya sebagian manajer atau pemimpin
terlibat dalam semua pekerjaasn sampai pada hal-hal yang kecil sekalipun. Suami
istri tidak berbagi tugas.

  1. Mengandalakan Pendapat Sendiri
         dan Tidak Mau Musyawarah.
  2. Maksiat dan Dosa.

Ibnul Qoyyim berkata: “…Kesimpulannya,
seorang hamba apabila berpaling dari Allah dan sibuk dengan berbagai
kemaksiatan, maka hilanglah baginya hari-hari kehidupannya yang hakiki yang
akibatnya akan ia jumpai dan penyesalan tiada arti.

 

 

Nafas Tak Kan Kemali


Written on May 26, 2008 – 7:48 pm | by daksinapati

 

Tidak ada
yang lebih berharga dari umur. Sedangkan umur manusia begitu pendek, tak lebih
dari beberapa puluh tahun. Lalu, kelak ia akan ditanya atas setiap detik waktu
yang di laluinya, dan apa yang dilakukan di dalamnya. Umur manusia adalah masa
tanam di dunia, sedang masa panennya adalah di akhirat. Karena itu, sungguh amat merugi jika manusia menyia-nyiakan
waktunya dan membelanjakan modalnya untuk sesuatu yang tak berguna. Siapa yang
tidak mengetahui besarnya nilai waktu, sungguh akan datang kepadanya suatu masa
tentang nilai dan mahalnya waktu serta nilai beramal di dalamnya. Tetapi hal
itu setelah waktu itu itu sendiri berlalu. Yang pasti, semua manusia akan
menyesal dalam dua kondisi, entah menyesal karena keingkarannya atau karena
sedikit amalnya. Namun penyesalan itu sudah tiada berguna.

Pertama,
saat sakaratul maut. Ketika itu, setiap manusia menginginkan agar diberi
sejenak waktu lagi dan diakhirkan ajalnya supaya bisa memperbaiki hidupnya yang
rusak atau meraih kebaikan yang dulu ia remehkan. Kedua, di akhirat. Yakni
ketika setiap amal manusia dibalas, dan ahli Neraka menginginkan jika dikembalikan
lagi ke dunia dan memulai hidup baru dengan amal shalih. Tapi ketika itu semua
telah terlambat, masa beramal telah usai, yang tinggal hanya masa pembalasan.

Namun
sayang, hal ini tak dipedulikan kebanyakan umat Iislam. Bahkan pada saat ini
orang begitu masa bodoh dengan nilai waktu dan sering menyia-nyiakannya.
Hari-hari berlalu tanpa diperhitungkan pertanggungjawabannya. Padahal tidak
sedetik pun waktu berlalu kecuali kita akan ditanya dengan apa mempergunakan
detik itu.

 

atit..atit..


Written on May 13, 2008 – 10:28 pm | by daksinapati

Arrgghh…my body is not delicious (baca: ga enak
badan)huh..absen kajian ust.abu Qotadah deh hari ini. Td di sms tmen. Nanyain
kenapa ga ngaji. La ba’sa Thohurun Insya Alloh katanya…(wah berarti siti tetap
datang walau tanpaQ J). Ah..hidup ini…(kenapa cobaaaa). Semalem dah
dibalurin siy badan pake jahe+bawang (dah kaya mo dimasak aja). Belum mendingan
jg. Masih masa inkubasi kayaknya. Yah gini niy rasanya jadi orang yg punya
penyakit tipes. Tapi kemarennya BAB-BAB (bukan baca buku berBAB-BAB lho yak.
Maksudnya mencret2. aduh malu =P). hari ini kuantitas BAB nya dah normal siy
tapi kualitasnya masih belum bagus (belum padat,ih jorok ah!). tau ga siy walau badan meriang gini. Tetap aja maksain
diri ngerendem baju (salah siapa coba?). padahal dah pernah niat kalo sakit mo
ngelondri aja (jgn dibayangin laundry yg mahal ntu.laundry yg dimaksud adalah
laundry kiloan yg sesuai dg kantong mahasiswa). Tapi ga jadi ah ngirit. Mo beli
madu aja.

Kan

di dalam madu terdapat obat ya ga…Ok deh, sholat ashar dulu trus kerumah mba
Ria beli madu.

 

12April08

pembelajarabn anak berbakat


Written on February 27, 2008 – 7:34 pm | by daksinapati

Pengajaran Berdiferensiasi: Suatu Pendekatan
Pembelajaran untuk Anak Berbakat
Abdul Mukti & Adjie Sayekti

Penyelenggaraan pendidikan umum di Indonesia hingga kini cenderung bersifat klasikal massal. Artinya, program pendidikan dilaksanakan untuk melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa. Model pengajaran seperti itu mengikuti pola one-size-fits-all (Tomlinson, 1995a). Kelemahan dari model pengajaran itu adalah anak yang memi-liki kemampuan dan bakat tinggi atau istimewa (anak berbakat) menjadi tidak terperhatikan. Padahal, bakat atau kemampuan anak berbakat itu seharusnya dapat dilayani dan dikembangkan melalui program pendidikan.

Selama ini, program layanan pendidikan bagi anak berbakat umumnya diberikan dalam bentuk program pengayaan dan atau percepatan. Program pengayaan merujuk pada pengayaan kurikulum dan pengalaman pendidikan bagi anak berbakat. Modifikasi atau penambahan kurikulum tersebut tentu saja harus didasarkan pada karakteristik pe-serta didik. Kendati demikian, ada satu kelemahan yang muncul dari program pengayaan itu. Selama jam belajar di sekolah, anak berbakat menghabiskan waktu belajarnya di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang sudah diran-cang secara umum. Karena mereka mampu menguasai materi lebih cepat dari teman-temannya; mereka akan mudah mengalami kejenuhan. Pasalnya, mereka terpaksa harus mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Sebagian dari mereka sering berpura-pura sakit atau membuat alasan untuk menghindari kegiatan yang membosankan itu. Lebih buruk lagi, mereka sering meninggalkan kelas dan bahkan ada yang menjadi putus sekolah. Bahkan penelitian Renzully dan Park (2000) atas 334 anak berbakat yang putus sekolah menunjukkan bahwa alasan terbanyak mereka meninggalkan sekolah adalah karena tidak menyukai sekolah.

Di Indonesia, hingga akhir tahun pelajaran 2002/2003, dilaksanakan program percepatan bagi anak berbakat Program percepatan itu merujuk pada penyampaian kurikulum dan layanan pendidikan yang dipercepat dari jadwal pembelajaran standar. Jenis program percepatan yang dilaksanakan di Indonesia adalah percepatan semua mata pelajaran melalui kelas khusus. Dengan cara ini, siswa akseleran belajar bersama dengan siswa akseleran lain dalam satu kelas, dan menyelesaikan program pendidikan satu tahun lebih cepat dari pada masa belajar sekolah biasa. Misalnya, siswa SMP dan SMA menyelesaikan program pendidikannya dalam dua tahun.

Namun demikian, akibat dari program percepatan tersebut, siswa akseleran secara fisik (dari segi kelas) dan pembelajaran, terpisah dari kebanyakan siswa, sehingga tidak ada interaksi anta-ra siswa akseleran dan siswa bukan akseleran selama proses pembelajaran, apalagi pembelajaran sesama teman (peer teaching). Dengan kata lain, sis-tem pembelajaran menjadi segregatif atau terpisah dari sistem pembelajaran umum.
Pengajaran Berdiferensiasi

Untuk mengakomodasi kelemahan-kelemahan dalam program pendidikan untuk anak berbakat yang dilakukan melalui program pengayaan atau percepatan penuh, telah dikembangkan pendekatan pengajaran yang disebut pengajaran berdiferensiasi (differentiated instruction). Pendekatan ini menghendaki agar kebutuhan pendidikan siswa berbakat dilayani di dalam kelas reguler. Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar pada siswa berbakat dengan tujuan menggali dan mengarahkan pengajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang berbeda-beda. Dalam pengajaran berdiferensiasi ini, guru menggunakan: (a) beragam cara agar siswa dapat me-ngeksplorasi isi kurikulum, (b) beragam kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga siswa dapat mengerti dan me-miliki informasi dan ide, serta (c) beragam pilihan di mana siswa dapat men-demonstrasikan apa yang telah mereka pelajari (Tomlinson, 1995).

Pengajaran berdiferensiasi tidak berarti memberikan tugas yang sama pada seluruh siswa dan melakukan penyesuaian untuk siswa berbakat dengan membedakan tingkat kesulitan pertanyaan, memberikan tugas yang lebih sulit pada mereka, atau membiarkan siswa berbakat menyelesaikan program regulernya kemudian bebas mengerjakan permainan sebagai pengayaan. Pengajaran ini juga tidak berarti memberikan lebih banyak tugas, misalnya soal matematika, pada siswa yang telah menguasai materi pelajaran tersebut. Sebaliknya, pengajaran berdiferensiasi ditandai oleh empat karakteristk umum, yaitu:
1. Pengajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok materi pelajaran. Dalam hal ini, semua siswa mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. Dengan cara seperti ini, semua siswa, termasuk siswa yang agak lambat (struggling learners) bisa memahami dan menggunakan ide-ide dari konsep yang diajarkan. Pada saat yang sama, siswa berbakat memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut. Pengajaran lebih menekankan siswa untuk memahami materi pelajaran dan bukannya menghapal serpihan-serpihan informasi. Pengajaran berbasis konsep dan prinsip mendorong guru untuk memberikan beragam pilihan
dalam belajar.

2. Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar siswa diakomodasi ke dalam kurikulum. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua siswa memerlukan satu kegiatan atau bagian tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu terus menerus mengevaluasi kesiapan dan minat siswa dengan memberi kan dukungan bila siswa membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas eksplorasi siswa terutama bagi mereka yang sudah siap untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menantang.

3. Ada pengelompokan siswa secara fleksibel. Dalam pengajaran berdi ferensiasi, siswa berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan, maupun belajar dalam kelompok. Kadang-kadang tugas juga perlu dirancang berdasarkan tingkat kesiapan siswa, minat, gaya sebelajar siswa maupun kombinasi antara tingkat kesiapan, minat, dan gaya belajar. Cara belajar linier dan klasik juga digunakan untuk mengajarkan ide baru.

4. Siswa menjadi penjelajah aktif (active explorer). Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut. Karena beragam kegiatan dapat ter-jadi secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pem-bimbing dan fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.

Strategi Pengajaran Berdiferensiasi

Dalam mendiferensiasikan pengajaran, guru bisa melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan mengajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan dan evaluasi (Howard, 1999; Weinbrenner, 2001)

1. Materi Pelajaran

Dalam proses pembelajaran, guru harus bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua siswa mempelajari materi pelajaran dalam kurikulum yang harus dikuasai siswa. Namun, guru tidak harus mengajarkan materi pelajaran tersebut pada semua siswa. Artinya, siswa yang telah menguasai kompetensi atau bahan ajar tertentu boleh mengu-rangi waktu yang diperlukan untuk menguasai kompetensi dan bahan ajar itu. Mereka boleh meloncatinya. Materi pelajaran dapat dimodifikasi melalui berbagai kegiatan pembelajaran, antara lain:

Pemadatan materi pelajaran, yaitu sebuah strategi untuk merampingkan waktu yang dihabiskan siswa untuk menyelesaikan kurikulum reguler. Dalam memadatkan materi pelajaran, guru harus menentukan kompentensi atau bahan ajar apa yang telah dikuasai siswa dan apa yang masih harus dipelajarinya, dan kemudian menggantikan kompetensi atau bahan ajar yang telah dikuasai tersebut dengan materi lain yang lebih menantang. Untuk itu, guru harus mempertimbangkan minat siswa karena siswa dituntut untuk menunjukkan komitmen, tanggung jawab dan kemandirian dalam melakukan tugas menantang. Misalnya, Rini selalu memperoleh nilai tinggi dalam mata pelajaran matematika. Pak Didin, guru matematika, memutuskan untuk memberikan pre-test pada Rini sebelum melanjutkan ke pokok bahasan atau unit berikutnya. Hasil tes menunjukkan bahwa Rini menjawab 90 persen dari tes tersebut. Artinya, Rini menguasai kurang lebih 90 persen bahan ajar yang belum diajarkan. Dalam hal ini, Pak Didin mena-warkan pada Rini untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk mempelajari pokok bahasan atau unit berikutnya. Pak Didin juga menyesuaikan pengajaran matematika sesuai dengan kecepatan belajar Rini. Selama jam pelajaran matematika, Rini akan me-ngerjakan tugas-tugas lain sementara siswa-siswa lainnya menyelesaikan tugas reguler dalam mata pelajaran matematika.

Setidaknya ada delapan langkah untuk memadatkan materi pelajaran, yaitu: (1) Tentukan tujuan pembelajaran pada materi yang akan diajarkan; (2) Cari cara yang sesuai untuk mengevaluasi tujuan pembe-lajaran tersebut; (3) Identifikasi siswa yang mungkin telah menguasai tujuan (atau dapat menguasainya dengan lebih cepat); (4) Evaluasi siswa-siswa tersebut untuk menen-tukan tingkat penguasaan; (5) Kurangi waktu yang diperlukan siswa untuk mempelajari materi yang telah dikuasai; (6) Berikan pengajaran pada sekelompok kecil atau siswa secara individu, yang belum menguasai tujuan pembelajaran di atas, tetapi dapat menguasainya lebih cepat dari teman-teman lainnya; (7) Dokumentasikan kegia-tan belajar pengganti yang lebih menantang, yang sesuai dengan minat siswa; (8) Dokumentasikan proses pemadatan dan opsi pembelajaran.

Studi intradisiplin, yailu studi atas satu tema atau topik dengan melibatkan mata pelajaran lain yang relevan. Guru mata pelajaran yang ingin memodifikasi topik atau tema tertentu dari materi pelajaran, dapat bekerjasama dengan guru mata pelajaran yang lain yang relevan. Selanjutnya, mereka dapat mengeksplorasi bentuk kegiatan pembelajaran yang mungkin dilakukan. Kajian mendalam. Cara ini bisa dila kukan oleh siswa berbakat bila mereka sudah siap dengan pengeta-
huan, kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan, waktu dan enerji yang dibutuhkan untuk tugas ini. Minat siswa pada suatu topik merupakan penentu utama dari ke-mauan untuk mengeksplorasi topik itu secara mendalam.

2. Proses

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk memodifikasi proses pengajaran dan pembelajaran, antara lain dengan:
• Mengembangkan kecakapan berpikir. Siswa berbakat perlu untuk mengembangkan kecakapan berpikir analitis, organisasional, kritis dan kreatif. Guru dapat mengajarkan secara langsung kecakapan ini, atau memadukannya dalam materi pelajaran. Kecakapan berpikir juga bisa dikembangkan melalui teknik bertanya.

• Hubungan dalam dan lintas disiplin. Untuk itu, siswa berbakat memerlukan kecakapan berpikir tingkat tinggi, terutama kemampuan menganalisis, menyintesis, mengaplikasi dan mengevaluasi. Siswa berbakat dianggap siap untuk belajar dengan kecakapan berpikir yang lebih tinggi bila mereka memiliki kecakapan untuk memecah satu ide atau konsep ke dalam bagian-bagian penting; mengatur kembali fakta-fakta, konsep dan ide ke dalam satu kombinasi baru; mengaplikasikan apa yang telah mereka kuasai dengan cara yang baru dan kreatif; danmenentukan nilai suatu ide.

• Studi mandiri, merupakan alternatif lain dalam memodifikasi proses. Sebagian siswa berbakat senang bekerja sendiri, mulai dari menentukan topik yang menjadi fokus studi, menentukan cara dan waktu penyelesaian, menentukan sumber untuk melakukan studi hingga menentukan format produk akhir studi. Guru dapat memfasilitasi studi mandiri dengan cara mengelompokkan siswa berdasarkan minat yang sama. Bila seorang siswa benarbenar ingin lebih mendalami suatu topik, guru bisa menawarkan satu kontrak studi mandiri bagi siswa yang bersangkutan.

3. Produk

Dalam memodifikasi produk, guru dapat mendorong siswa untuk mende-monstrasikan apa yang telah dipelajari atau dikerjakan ke dalam beragam format yang mencerminkan pengetahuan maupun kemampuan untuk memanipulasi ide. Misalnya daripada meminta siswa untuk menambah jumlah halaman laporan dari suatu bab, guru bisa meminta siswa untuk menyintesis pengetahuan yang telah diperoleh. Guru juga bisa memberikan kesempatan pada siswa berbakat untuk menginvestigasi masalah riil yang terjadi di sekitarnya dan mempresentasikan solusinya. Misalnya, siswa diminta untuk menginvestigasi polusi dari emisi kendaraan atau polusi air kali, dan hasilnya bisa di-sampaikan pada instansi pemerintah atau swasta yang terkait.

4. Lingkungan Belajar

Iklim belajar di kelas merupakan faktor yang berpengaruh langsung pada gaya belajar dan minat siswa. Sikap guru lah yang sangat menentukan iklim di dalam kelas. Lingkungan belajar yang sesuai adalah yang mengandung kebe-basan memilih dalam satu displin; kesempatan untuk mempraktikkan krea-tivitas; interaksi kelompok; kemandirian dalam belajar; kompleksitas pemikiran; keterbukaan terhadap ide; mobilitas gerak; menerima opini; dan meren-tangkan belajar hingga keluar ruang kelas. Untuk itu, guru harus mampu membuat pilihan-pilihan yang sesuai mulai dari apa yang akan diajarkan, ba-gaimana mengajarkannya, materi dan sumber daya apa yang perlu disediakan hingga bagaimana mengevaluasi pertumbuhan belajar siswa.

5. Evaluasi

Memodifikasi evaluasi berarti menentukan suatu metode untuk mendokumentasikan penguasaan materi pelajaran pada siswa berbakat. Guru harus memastikan bahwa siswa berbakat memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikan penguasaan materi pelajaran sebelumnya ketika akan mengajarkan pokok bahasan, topik, atau unit baru mata pelajaran. Guru juga harus mendorong mereka untuk mengembangkan rubrik atau metode lain untuk mengevaluasi proyek atau hasil studi mandiri mereka.
________________________________________

Kembali / Back

IEP for gifted juga


Written on February 19, 2008 – 6:58 pm | by daksinapati

ndividual Education Plans (IEPs) for Gifted Students

      

Contributed by ABC London and Middlesex Chapter

      

The
following information is to help parents and students negotiate
adjustments so that school better suits the dynamic capability
of the gifted student. The environment for these negotiations is
challenging: educators may not understand what gifted
students need, how desperately they need it, and how those needs should
be met. Further, staffing may be inadequate to provide
gifted learners with the appropriate pace and depth of instruction. In
order for you to know how to best support your child’s
needs, it is useful to understand how the system should work.

 
      

HOW IS THE ONTARIO CURRICULUM MODIFIED FOR GIFTED STUDENTS?

      

The
Ministry of Education has described curriculum – what needs to be
learned and in what sequence – for students from junior
kindergarten to grade 12. The curriculum applies to all students,
including gifted students. By definition, gifted students require
alterations in their educational programs in recognition of and in
order to foster the abilities they were born with (student
needs). It may be necessary to move gifted students ahead of their age
peers in one or more subjects (acceleration) or to decrease
the time allowed for learning certain material. It is frequently
necessary to alter the content and outcomes of units of study to
broaden the content and to allow students to pursue certain issues in
more depth. These alterations or modifications of curriculum
result in what is known as a differentiated curriculum. As a result,
what the student will be graded on will be different.

      

IN BROAD TERMS, WHAT IS AN INDIVIDUAL EDUCATION PLAN (IEP)?

      

The
IEP addresses the “problem” of what and how the gifted student learns
that is out of step with what other age peers are
learning. The plan is a roadmap that shows where the student is going
and how you will know when he or she has gotten there.
The IEP proceeds from a student profile to curriculum changes to
evaluation methods. The profile describes the unique areas of
need and strengths of the student at that time. This information is
gathered largely from other sources: statements of needs from
the IPRC report and information about abilities from psychological and
achievement tests as well as anecdotal reports.

      

The
next part of the plan outlines the actions that will be taken
considering the profile. The subject areas or courses where the
learning outcomes are to be modified must be specified. Either (1) the
student can be advanced to a higher grade level in the curriculum
or (2) the curriculum at some grade level is modified by changing the
content - - increasing the number of expectations
or, more likely, the increasing complexity of the expectations (higher
order thinking skills). These modifications have to be
spelled out. As well, the plan should indicate the strategies for
accomplishing the changes: instruction by a resource teacher,
using a different textbook, pairing the student with an expert mentor,
peer partnerships, and guided independent learning, for exaample;
the strategies that are recorded in the IEP are different from those
used with students proceeding through the regular curriculum.

      

Finally,
the plan should also specify how and on what basis the student will be
evaluated, in other words, how the grades on
the next report card will be determined. An effective IEP will describe
how the curriculum will be modified in view of the student’s
needs, capitalizing on the student’s strengths. It is a master plan,
not a daily plan. An IEP will also indicate any al ternative
programs that will be taught to the students and subsequently evaluated.

      

HOW ARE STUDENTS AND PARENTS INVOLVED IN DEVELOPMENT OF THE IEP?

      

Educators
should prepare the IEP, but parents, being the experts on their
children, can provide valuable information about the
plan’s appropriateness and likelihood of success, especially for
elementary -age children. While students over the age of 16 by
regulation must be consulted about the IEP, the insight of a younger
gifted student should not be overlooked! It is quite reasonable
for a parent or student to ask for a copy of the IEP before meeting to
discuss it.

      

WHAT SHOULD YOU LOOK FOR IN THE IEP?

      

Technically,
many items should be included in the IEP. The key components are the
changes in the educational program that
will be the basis of evaluation. The IEP should be completed 30 school
days after a student has begun the placement. Educators
in consultation with parents/students should review the IEP each time
there is a report card to ensure that the learning expectations
for the next reporting period are recorded. Parents children in high
school should expect an IEP within 30 days of each
school term or semester, per subject that is being modified. The
following are critical questions:
- Are the needs and strengths that were stated in the IPRC being respected?
For example, if the student’s area of need is “advanced cognitive
skills”, does the plan desrcibe how those skills will be taken into
account in the content and method of instruction? If the student’s area
of need is “leadership skills”, do the plans incorporate some direct
instruction,
opportunities for leadership skill development, and appropriate
assessment tasks?
- Is the plan tied into the curriculum?
(This is the key question). Action should be related to specific
subject areas: the
pace maybe accelerated, the content may be broadened or subjects
explored in more depth; the products of learning may be
different (a letter to the editor instead of an essay, a play instead
of a report, an annotated bibliography on a particular subject
rather than a test). For example, returning to the idea of addressing
the need to employ advanced cognitive skills, how
will that play out? If math instruction is to be accelerated, who will
work with the student? What methods will be used to
evaluate the student’s starting point and progress? When will this
instruction/learning be going on during the school day?
After the unit or year of instruction had been completed, what will
happen next? In general, beware of “enrichment”:
While the desired process could be accurately described as enriching
the curriculum, miscellaneous interesting experiences
do not substitute for modification in curriculum. As a strategy, “offer
enrichment” does not specify what actually will be
done to change what the student will learn or how the student will
learn it.
- Will it be clear to everyone whether the plan was carried out? Is there a timetable for action? What processes or products
will there be if the process has been followed?

      

INFORMATION TO BE INCLUDED IN AN IEP FOR A GIFTED STUDENT

      

- Areas of strengths (learning styles, learning modalities, skill areas)
- Areas of learning needs, as recorded at the IPRC (what areas need special attention)
- Summary statement of assessments that support identification as gifted
- Modified learning expectations by subject, along with the strategies for achieving them
- Methods for reviewing the student’s achievement in the modified expectations and the format and date for reporting progress

ttp://www.abcontario.ca/magazine/spri04.htm

Instructional for gifted


Written on February 19, 2008 – 6:42 pm | by daksinapati

Instructional Model
Gifted and Talented Framework Based Curriculum
Our highly professional staff uses a variety of techniques, strategies,
and activities to strengthen our gifted and talented students’ ability
to think – to reason. We promote the use of Bloom’s Taxonomy,
Sternberg’s Creative, Analytical and Practical Theory of Reasoning, and
Gardner’s Multiple Intelligences to guide instruction in gifted and
talented education.
Each of the strands of the framework is not taught in isolation. We
recognize the complexity of the intertwining of thought – the thinking
processes, and the importance of assisting students to make authentic
personal connections in order to make learning real.
Our curriculum framework is not a means to an end, but a process
towards the development of intellect and intra and interpersonal
social/emotional understanding, to become life long learners and
citizens of character.

The Gifted and Talented Program incorporates a curriculum framework focused on the following areas…

Creative/Critical/Analytical Thinking:
An inventive, interpretive - rigorous curriculum assists student
development of multiple strategies for understanding and investigating
complex concepts and issues.
Problem Solving:
Unique high level curricular extensions are used to heighten the High
Ability Learners’ understanding to reason through problem solving
processes.
Research:
An established structure for research appropriate for elementary
students is promoted. From kindergarten through grade six, students
develop their ability to apply, analyze, synthesize and evaluate from
the knowledge students have acquired through research.
Social/Emotional Development:
Beyond the scope of lessons taught in the classroom by the school
counselors, facilitators inquire, discuss and verify the sensitive
feelings of gifted and talented students.
Habits of Mind Habits of Mind:
"Habits" are traits that
successful people have demonstrated and continually develop. These
sixteen “Habits” are an important part of our curriculum framework.
These high level abstract life skills are applied in a concrete
fashion, so the “Habits” become second nature to assist students in
their journey to become successful.

We infuse these sixteen traits that successful people develop with the curricular focuses.
The sixteen habits are as follows…

   
       
            

       

       

            

            

            

            

       

       

            

            

            

            

       

       

            

            

            

            

       

       

            

            

            

            

       

   

            

Habits of Mind

            

            

Persisting

            

            

Thinking and communicating with clarity and precision

            

            

Applying past knowledge to new situations

            

            

Responding with wonderment and awe

            

            

Managing Impulsivity

            

            

Thinking about Thinking (Metacognition

            

            

Remaining open to continuous learning

            

            

Taking responsible risks

            

            

Listening with Empathy and Understanding

            

            

Striving for Accuracy

            

            

Gathering data through senses

            

            

Finding humor

            

            

Thinking Flexibly

            

            

Questioning and Posing Problems

            

            

Creating Imagining and innovating

            

            

Thinking interdependently

            

Gifted Content Standards are as follows…

   
       
            

       

       

            

            

       

       

            

            

       

       

            

            

       

       

            

            

       

       

            

            

       

   

            

Content Standards
            Elementary Gifted Education Kindergarten – Grade 6

            

            

01

            

            

Differentiated
curriculum (curricular and instructional adaptations that address the
unique learning needs of gifted learners) for gifted learners must be
integrated and articulated throughout the district.

            

            

02

            

            

Means
for demonstration proficiency in essential regular curriculum concepts
and processes must be established to facilitate appropriate academic
acceleration.

            

            

03

            

            

Gifted
learners must be assessed for proficiency in basic skills and knowledge
and provided alternative, challenging educational opportunities when
proficiency is demonstrated.

            

            

04

            

            

A
program of instruction must consist of advanced content and
appropriately differentiated teaching strategies to reflect the
accelerative learning pace and advanced intellectual processes of
gifted learners.

            

            

05

            

            

Diverse
and appropriate learning experiences must consist of a variety of
curricular options, instructional strategies, and materials.

            

       
       
         
            http://www.ops.org/ops/CENTRALOFFICES/CurriculumandLearning/GiftedandTalented/InstructionalModel/tabid/968/Default.aspx


            
             
               

               

Program Bina Diri dengan Adab Makan dan Minum Islami


Written on December 21, 2007 – 1:46 am | by daksinapati

 BAB II

   PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Tunagrahita

 

Pemahaman yang jelas tentang siapa Anak
Tunagrahita (ATG) merupakan dasar yang penting untuk dapat menyelenggarakan
layanan pendidikan dan pengajaran yang tepat bagi mereka. ATG terdapat di

kota

dan di desa di
lakangan atas dan di langan rakyat jelata, dalam keluarga kurang terpelajar dan
keluarga kurang terdidik, baik dalam keluarga kaya maupun miskin.

ATG adalah mereka yang kecerdasanna
jelas berada di bawah rata-rata. Disamping itu mereka mengalami keterbelakangan
dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Mereka kurang cakap dalam memikirkan
hal-hal yang abstrak, yang sulit dan berbelit-belit. Mereka kurang atau
terbelakang atau tidak berhasil bukan untuk sehari dua hari tetapi hampir
segala-galanya. Lebih-lebih dalam pelajaran.

Definisi dari American Association on
Mental Deficiency (AAMD) adalah bahwa Tunagrahita mengacu pad fungsi
intelektual umum yang nyata berada di bawah rata-rata bersamaan dengan
kekurangan dalam adaptasi tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan.

Kecerdasan rata-rata ditentukan oleh
tes intelegensi. Misalnya anak berumur 12 tahun baru dapat mengerjaan pekejaan
anak umur tujuh tahun atau

lima

tahun. Kekurangan
dalam adaptasi tingkah laku maksudnya adalah ana tidak atau kurang mampu
melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang dapat dilakukan oleh ana usia di
bawahnya.

The New Zealand Society for the
Intellectually Handicappe menyatakan tentang ATG adalah bahwa seseorang
dikatakan tunagrahita pabila kecerdasannya jelas-jelas di bawah rata-rata dan
lberlangsung pada masa perkembangan serta terhambat dalam adaptasi tingkah laku
terhadap lingkungan sosialnya.

Dari berbagai definisi jelaslah bahwa
untuk menetukan seseorang termasuk kategori tunagrahita selain kecerdasannya
atau tingkat intelegensinya jelas-jelas berada di bawah normal perlu pula
diperhatikan kemampuan penyesuainnya (adaptasi tingkah laku) terhadaplingkungan
sosial dimana ia berada. Selanjutnya perlu pula diperhatikan tentang waktu
terjadinya tunagrahita. Bila ketunagrahitaa itu terjadi setelah masa
perkembangan (setelah usia 28 tahun) maka ia tidak tergolong tunagrahita.

 

B. Karakteristik Tunagrahita

 

Kapasitas belajarnya sangat terbatas
terutama untuk hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan cara
membeo (rote learning) bukan dengan pengertian. Dalam pergaulan mereka tidak
dapat mengurus, memelihara dan memimpin diri. Mereka bermain dengan teman-teman
yang lebih muda, tidak dapat bersaing dengan teman sebaya. Tunagrahita sendiri
dibagi menjadi tunagrahita ringan, sedang, dan berat.

  1. Karakteristik Anak
         tunagrahita ringan

Lancar berbicara tetapi kurang perbendaharaan kata-kataya.
Mereka mengalami kesukaran berpikir abstrak tetapi ereka masih dapat mengikuti
pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun di sekolah khusus. Umur 16
tahun baru mencapai umur kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun.

  1. Karakteristik Anak
         tunagrahita sedang

Anak tunagrahita sedang hampir tidak bisa mempelajari
pelajaran-pelajaran akademik. Mereka pada umumnya belajar secara membeo.
Perkembangan bahasanya lebih terbatas daripada anak tunagrahita ringan. Mereka
hampir selalu bergantung pada perlindungan orang lain. Pada umur dewasa mereka
baru mencapai kecerdasan sama dengan anak umur tujuh atau delapan tahun.

  1. Karakteristik Anak
         Tunagrahita Berat

Anak tunagrahita berat sepanjang hidupnya akan selalu
tergantung pada pertolongan dan bantuan orang lain. Mereka tidak dapat
memelihara diri sendiri (makan, berpakaian, ke WC dan sebagainya harus
dibantu). Mereka tidak dapat membedakan yang berbahaya dengan yang tidak berbahaya,
tidak mungkin berpartisispasi dengan lingkungan di sekitarnya, dan jika sedang
berbicara maka kata-kata dan ucapannya sangat sederhana.

 

Program
bina diri diberikan untuk untuk tunagrahita ringan dan sedang. Namun pada
makalah ini dibatasi hanya tunagrahita ringan saja.

 

C.
Program Bina Diri

 

Bina diri adalah kemampuan atau bagaimana seseorang
merawat atau membina dirinya. Bina diri merupakan pelajaran yang khusus
diberikan kepada Anak tunagrahita (ATG). Kekhususan ini sangat penting dalam
mengantarkan ATG agar dapat mandiri beradaptasi dengan lingkungan dan diterima
masyarakat pada umumnya.

 Aspek-aspek yang harus disiapkan
diantaranya materi. Materi berupa ketrampilan yang perlu dikuasai setiap ATG
untuk dapat hidup mandiri. Materi juga terdapat pada diri anak dan lingkungan
sekitarnya. Merupakan perencanaan kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat
ditinggalkan atau dihilangkan. Dipelajari tahap demi tahap, berkesinambungan,
berulang-ulang dari yang termudah hingga yang tersulit sampai dapat dikuasai
anak.

 Tujuan pembelajaran adalah agar ana
memiliki ketrampilan mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain,
mempunyai rasa percaya diri, tidak merasa canggung dan rendah diri dalam
beradaptasi dengan lingkungannya.

 

D.
Adab-adab Makan dan Minum

1.
Makan dan minum tidak boleh berdiri kecuali ada udzur.

 “Janganlah salah seorang di antara
kalian minum sambil berdiri.” (HR. Muslim).

2.
Membaca Bismillah sebelum makan dan minum.

3.
Makan dan minum dengan tangan kanan.

4.
Terlebih dahulu makan dari makanan yang terdekat.

 Dalil poin dua, tiga, dan empat adalah
“Wahai anak muda, ucapkanlah ‘bismillah’ makanlah dengan tangan kanan dan
makanlah apa yang ada didekatmu” (HR. Muslim).

5.
Makanan tidak boleh tersisa dan disunnahkan menjilati jari jemari. 

 Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik
dari Ayahnya, ia menuturkan “adalah Rasulullah makan dengan tiga jari dan ia
menjilatinya sebelum mengelapnya.” (HR. Muslim). Berarti hal tersebut dilakukan
ketika seseorang makan dengan tangan. Jika dengan sendok tidak perlu menjilati
jari.

 “Sesungguhnya kalian tidak
mengetahui dibagian manakah darimakanan itu yang mengandung berkah.” (HR.
Muslim). Ini adalah dalil diperintahkannya menghabiskan makanan.

6.
Mengambil makananyang terjatuh membersihkanbagian yang kotor lalu memakannya.

 “apabila suapan makan seorang kamu
jatuh hendklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia
dan jangan membiarkannya untuk setan.” (HR. Muslim).

7.
Tidak meniup makanan yang masih panas atau bernafas di saat minum.

 Hadits Ibnu Abbas menuturkan
“Bahwasanya Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wassalam melarang bernafas pada bejana
minuman atau meniupnya.” (HR At-Tirmidzi dan dishohihkan oleh Al-Albani).

 Dari Anas rodhiallahu anhu, ia
berkata: Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam jika minum bernafas sampai tiga
kali, yaitu bernafas di luar gelas.” (HR. Mutafaq ‘alaih)

8.
Mengucapkan alhamdulillah setelah makan dan minum.

 “Sesungguhnya Allah senang sekali
(ridho) kepada orang yang makan makanan, lalu ia memuji Allah (mengucapkan alhamdulillah) atas
makanan tersebut dan orang yang meminum minuman, lalu memuji Allah (mengucapkan
alhamdulillah) atas minuman tesebut.” (HR. Muslim).

E. Rancangan Program Pembelajaran

Rancangan Program
Pembelajaran (RPP) yang akan ditampilkan merupakan modifikasi. Jika biasanya
program bina diri hanya mengajarkan cara melakukan suatu kegiatan atau
ketrampilan maka pada RPP kali ini dimasukkan pengetahuan tentang adab makan
dan minum. Perlu ditekankan dalam penggunaan media pembelajaran harus
menggunakan media yang benar-benar nyata. Jika guru mengajarkan konsep apel
maka guru harus benar-benar menunjukkan buah apel.

 

 Rancangan Program
Pembelajaran

 

Pokok Bahasan: makan
dengan tangan.

Kelas
/ Semester: I / I 

Alokasi
Waktu: 2×35 menit.

 

Standar
Kompetensi:

Memahami
cara makan sesuai adab makan Islami.

 

Kompetensi
Dasar:

Dapat
melakukan makan dengan tangan.

 

Indikator:

Anak
mampu makan dengan tangan.

Tujuan
Pembelajaran:

Anak
diharapkan: - Makan mandiri tanpa
bantuan orang lain.

- Mengetahui makan sesuai dengan adab makan Islami.

- Membiasakan makan sesuai dengan adab makan Islami.

 

Materi:

Makan
dengan tangan.

 

Metode:

Materi
dan Demonstrasi.

 

Media:

- Meja makan.

- Makanan yang tidak
berkuah. (Nasi dan telor mata sapi dan

tempe

goreng).

- Mangkuk pencuci tangan.

- Serbet untuk mengelap
tangan.

 

Langkah-Langkah
Pembelajaran

Tahap
Awal:

- Apersepsi.

- Berdoa bersama.

- Mengkondisikan anak
untuk kegiatan belajar makan.

Tahap
Inti:

- Duduk di meja makan.

- Mencuci tangan ke dalam
mangkuk.

- Membaca Bismillah.

- Mengambil lauk dari
yang terdekat ke piring.

- Mengambil nasi dengan
lauk lalu memasukkan ke dalam mulut.

- Makan harus habis dan
piring harus bersih.

- Membaca Hamdallah.

- Menjilati jari jemari.

- Mencuci tangan.

- Mengelap tangan dengan
serbet.

Tahap
Akhir:

- Berpesan pada siswa
agar mempraktekkan di rumah.

- Menutup dengan doa.

 

Inilah contoh modifikasi program bina diri dengan
memasukkan adab makan dan minum Islami. program dilakukan secara bertahap. Jika
pada program ini hanya diajarkan ketrampilan makan menggunakan tangan maka
selanjutnya menggunakan sendok, makan makanan berkuah dan seterusnya. Sesuai dengan
prisnsip pembelajaran mulai dari yang mudah ke yang sulit.

Hasil asesmen ATL


Written on December 21, 2007 – 1:39 am | by daksinapati

 

LAPORAN HASIL
ASESMEN

 

  1. Screening
         dan Identifikasi

Kepala Sekolah menjelaskan bahwa semula AY bersekolah di SDN Slipi 017
Pagi. Duduk di kelas lima. Ay memang
dikenal sebagai pengacau kelas. Tidak mau mengerjakan tugas dari guru. Dan
menurut penuturan kepala sekolah AY mungkin memiliki IQ yang rendah. Karena
sebuah peristiwa yang belum lama berlangsung (sekitar awal November), AY
dipindahkan ke SLB Persiapan Negeri I Jakarta Barat. Ketika guru Agama sedang
menerangkan lalu menulis ke papan tulis, AY beranjak dari tempat duduknya dan
tanpa sepengetahuan guru Agama AY menarik kursi guru. Guru Agama yang tidak
menyadari bahwa kursinya telah berpindah, langsung duduk tanpa melihat terlebih
dahulu. Hasilnya guru Agama tersebut jatuh terpelanting ke lantai.

2. Observasi

a. Observasi hari pertama (20 November
2007)

 Asesor
masuk kelas sekitar pukul 09.00 saat pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan)
tengah berlangsung. Di kelas tersebut terdapat tujuh siswa. Terdiri dari empat
siswa tunarungu, dua siswa tunagrahita, satu siswa tunlaras yaitu AY. Saat itu
satu siswa absen. Selain bervariasi dalam ketunaan, kelas juga diwarnai oleh
jenjang kelas yang berbeda-beda.
Tiga siswa kelas IV, satu siswa kelas V, dan satu siswa kelas tunarungu
kelas VII. Siswa duduk dalam satu shof dan Ay berada paling ujung dekat pintu.

 AY
telibat perang mulut dengan BD (tunagrahita), guru kemudian keluar kelas. VIP
(tunagrahita) menyanyi dengan lagu yang
mengejek AY. AY tidak terima. VIP dan AY terlibat cekcok. BD berusaha menenangkan
VIP. VIP melawan AY.
Guru
masuk dan mereka tidak melanjutkan pertengkaran.

 Siswa masih terus menyalin materi dari
papan tulis. AY menyalin sambil bersenandung. Ketika Asesor bercakap-cakap
dengan guru kelas, AY dan VIP betengkar lagi. Setelah melerai Asesor dan guru
kembali bercakap-cakap. Tanpa sadar AY telah keluar kelas (sekiar pukul 09.45).
Seorang siswa tunagrahita dari kelas lain melaporkan bahwa ia melihat AY di
bawah sedang melihat siswa SD bermain sepak bola.

 Guru turun ke bawah dan berhasil membawa
AY kembali ke kelas. AY kembali dengan membawa sebuah snack ringan. Asesor
bertanya pada AY.

 “AY dari mana?”.

 “Jajan”. Jawabnya.

Setelah beberapa menit duduk
AY kembali keluar kelas.
Guru
kembali keluar kelas dan menjemput AY. Guru berhasil mendapatkan AY. Asesor
melihat guru menempelkan AY ke tembok (diluar kelas) dan mengatakan sesuatu
kepada AY.
Asesor tidak bisa
mendengar karena asesor berada di dalam kelas. AY ditarik masuk ke dalam kelas
sambil menangis. AY membereskan buku lalu memasukkan ke dalam tas dan pulang.

Asesor terkejut
melihat AY pulang.
Guru
menjelaskan pada asesor bahwa ia memberi pilihan pada AY. Jika ingin belajar
masuk ke kelas. Tapi jika tidak lebih baik pulang. Ternyata AY memilih pulang.
Asesor mengejar ke bawah. AY sudah sampai di bawah tangga. Pintu tangga
dikunci. Sejak AY pindah ke SLB pintu tangga selalu di kunci agar AY tidak
kabur. Asesor bertanya pada AY apakah Guru mengizinkan ia pulang. AY tidak
menjawab. Hanya menangis. Istri penjaga sekolah yang memegang kunci pun
bertanya demikian. Dan tidak di jawab oleh AY.
Istri penjaga sekolah lalu membukakan pintu dan AY
pun pulang.

 

b. Observasi hari kedua (22 November 2007)

Asesor datang ketika jam
olahraga hampir selesai. Bel istirahat kemudian berbunyi.
Setelah istirahat pelajaran IPA dimulai. AY masuk
kelas dengan membawa catur mainan. Pelajaran IPA dimulai. AY masih sibuk dengan
catur mainan sementara guru sudah mulai menulis materi “rantai mkanan” di papan
tulis. AY bisa menjawab pertanyaan yang diajukan untuk seluruh kelas. AY masih
bermain dengan biji-biji catur mainan. Biji-biji catur AY jatuh, lalu guru
menarik lengan AY dan memerintahkan AY menaruh caturnya. AY berjanji akan
menaruh biji catur. Tetapi AY tetap memegang caturnya. AY bisa merespon
pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan  untuk seluruh kelas dan jawabannya benar. AY
tetap memegang catur. Guru menarik meja AY dan biji-biji caturnya berhamburan
ke tanah.

AY berkata, “Yah..Ibu”

Guru berkata,”AY kok
susah ya dibilangin?”

Guru memerintahkan AY
memunguti biji catur dan memasukkan bersama kardusnya ke tas. AY memasukkan
catur ke tas tetapi kardusnya dibuang ke tempat sampah yang berada di dalam
kelas. AY mengambil gambar tempel dan menempelkannya pada buku tulisnya. AY
tetap merespon dan tetap memegang gambar tempelnya. AY terlibat aktif..

Guru memerintahkan siswa
mencatat pelajaran yang telah diterangkan.
AY boleh tidak menulis karena materi tersebut
sudah diajarkan kemarin. Asesor melihat pekerjaan AY kemarin, Ada gambar rantai
rantai makanan. Asesor menunjuk tulisan Jamur yang ditulis ‘jumur’.

Asesor bertanya, “Ini
bacanya apa?”

“Cacing” (Di atas tulisan
ada gambar cacing dan disampaing tulisan ‘jamur’ ada tulisan ‘cacing’).

“Bukan yang itu tapi yang
ini” kata Asesor sambil menunjuk tulisan ‘jamur’.

“Tau dah, bentar deh” AY
pergi dari kursinya dan membuang sampah.

AY masih berada dekat tempat
sampah.
AY berkata bahwa ia
sakit perut dan ingin kentut. AY lalu membuka pintu.

Guru berkata jika ingin
kentut tidak harus keluar. AY berkata bahwa ia sakit perut ingin buang air
besar.

“Boleh berak bu?” Tanya AY.

Guru membolehkan. AY keluar
lalu guru mengikuti.
Ternyata
AY tidak pergi ke kamar mandi. AY membeli Air mineral gelas. AY masuk kelas
lalu minumnya diminta oleh guru. AY duduk. Guru memerintahkan AY menulis. AY
menolak dengan alasan capek. AY meminta minumannya. Guru memberi pilihan. Jika
tidak mau mencatat, AY boleh mengerjakan latihan.

Guru tetap meminta AY
menulis.
Guru mengambil
ancang-ancang hendak melempar AY dengan spidol.
AY mengambil buku dan jam tangan. AY bermain jam tangan. Guru mengancam akan
membuang jam tangannya. AY menundukkan kepala di atas meja sambil menutup
kepala dengan buku. VIP meledek AY. AY memukul VIP dengan buku tetapi pelan. AY
tetap tidak mau menulis. AY dibentak dan digertak terus oleh Guru. AY meledek
VIP ketika VIP sedang meledek teman-teman di luar kelas. AY menempeleng VIP.
VIP membalas. AY mengganggu dengan mengoyang-goyang meja. VIP terganggu. Guru
memarahi AY. AY tetap tidak mau menulis. Guru menasehati. Guru membicarakan
kesalahan AY yang membuat AY dikirim ke SLB. Guru memelintir tangan AY sambil
menasehati.

Pukul 10.03 AY mulai mau
menulis. Tetapi ternyata AY tidak menulis apapun. AY hanya menggambar sesuatu
lalu menghapus. Tidak menulis, hanya bermain kertas. Sampai istirahat kedua AY
tetap tidak mau menulis. Istirahat kedua pukul 10.45.

Bel masuk berbunyi pukul
11.00. AY masuk jam 11.09. AY masuk kelas dan memasukkan kartu-kartu mainan ke
dalam tas. Lalu keluar lagi. Guru mencari dan tidak ketemu. Guru menulis di
papan tulis dan siswa diminta mengambil buku penghubung. AY masuk dan menulis
di buku penghubung. AY menulis dengan mata melihat ke papan tulis dan tangan
menulis. Hanya sekali-sekali AY melihat ke buku.

3. Wawancara

 Wawancara lebih difokuskan
pada kemampuan akademik.

  1. Bagaimana
         kemampuan membaca AY ?

Guru SD (GSD): masih sulit membedakan huruf, masih
terbata-bata ketika membaca.

Guru SLB (GSLB): sudah mengenal huruf tetapi masih
tebata-bata. Masih dieja. Menulis pelajaran ”matematika” belum bisa tetapi
menulis namanya sendiri sudah bisa.

  1. Bagaiman
         kualitas menulis AY?

GSD: tulisannya tidak terbaca.

GSLB: tulisannya cukup jelek tetapi guru masih
bisa membaca.Contohnya ’a’ ditulis terbuka seperti ’u’.

  1. Bagaimana
         kemampuan mengarang AY?

GSD: kalau
ada pelajaran mengarang tidak menulis.

GSLB: belum pernah dicoba tetapi mungkin kalau hanya
mengarang di otak tanpa ditulis bisa.

  1. Bagaimana
         kemampuan berhitung AY?

GSD: cukup mampu. Kemampuan berhitung AY lebih
baik dibanding kemampuan akademik yang lain.

GSLB: penjumlahan dan pengurangan bagus. Perkalian
juga bagus. Pembagian sudah dicoba yang ringan dan bisa.

  1. Bagaimana
         kemampuan olahraga AY?

GSD: olahraga bagus dan bersemangat.

GSLB: selama di SLB AY tidak mau ikut olahraga
karena malu dengan teman-temaan di SD.

 

 

4. Instrumen (Rating Scale)

Instrumen terlampir diisi oleh guru SD dan SLB.

  1. Berkaitan
         dengan pengendalian diri di kelas (11 Soal)

Guru SD: empat soal sering, dua soal
kadang-kadang, lima soal tidak pernah.

Guru SLB: empat soal sering, tiga soal
kadang-kadang, empat soal tidak pernah.

  1. Kebiasaan
         Belajar dan Bekerja (13 soal)

Guru SD: tujuh soal sering, lima soal tidak
pernah.

Guru SLB: tiga soal sering, enam soal
kadang-kadang, satu soal tidak dijawab.

  1. Sikap
         dan Perilaku dengan Teman Sebaya (enam soal)

Guru SD: semua dijawab sering.

Guru SLB: empat soal sering, dua soal
kadang-kadang.

  1. Sikap
         danPerilaku dengan Orang Dewasa (guru) (delapan soal).

Guru SD: empat soal dijawab sering, satu soal
kadang-kadang, tiga soal tidak pernah.

Guru SLB:dua soal sering, satu soal kadang-kadang,
lima soal tidak pernah.

 

Analisis Hail Asesmen

 

 Dalam percakapan informal
antara Asesor dan Guru SLB, beliau pernah bertanya pada AY apakah AY lebih
senang berada di SD atau SLB. AY menjawab bahwa ia lebih senag berada di SLB.
Selama pindah ke SLB AY tidak pernah absen. Kecuali untuk pelajaran olahraga AY
tidak mau ikut karena malu dengan teman-teman di SD. Kejadian pulangnya AY pada hari pertama
observasi menurut Guru SLB adalah AY merasa bahwa guru lengah karena ada tamu
di kelas. Kelengahan guru dimanfaatkannya untuk berbuat ulah.

 Berdasarkan observasi dan
rating scale yang dilakukan asesor, perilaku yang nampak pada AY ketika berada
di kelas anatara lain; tidak patuh/ tidak mau mengikuti instruksi guru,
mengganggu teman, tidak mau diam (keluyuran), mudah terganggu dengan stimulus
dari luar, mengejek teman. Perilaku AY ini dapat digolongakan dalam istilah
conduct disorder/usocialized aggresion (ketidakmampuan mengenalikan diri). Pada
item ’memberi respon dikelas’ guru SD menjawab tidak pernah. Guru SLB menjawab kadang-kadang, asesor melihat
ketika observasi AY merespon. Perbedaan ini terjadi karena materi pelajaran di
SLB lebih mudah daripada di SD. Hal ini diakui AY menjadi salah satu penyebab
ia lebih senang berada di SLB daripada di SD (berdasarkan pengakuannya pada
Guru SLB). Dan khusus untuk respon yang ditampilkan ketika observasi hari kedua
adalah karena sebelumnya AY telah mendapatkan materi tersebut.

Sebuah hal yang menarik pada dimensi kebiasaan
belajar dan bekerja. Beberapa pertnyaan yang dijawab ’sering ’oleh guru SD
dijawab ’kadang-kadang ’ oleh guru SLB. Terdapat dua kemungkinan. Pertama, ada
kemajuan dengan perilaku AY. Kemajuan ini dapat disebabkan oleh pukulan yang
cukup telak bagi AY karena dipindahkan ke SLB sehingga ia berniat merubah diri.
Kedua, jumlah siswa SLB yang lebih sedikit membuat guru lebih mudah mengawasi
siswa sehingga AY tidak bisa menghindar
dari tugas.

Kemampuan akademik AY berada dibawah rata-rata.
Hal ini bisa disebabkan karena IQ dibawah rata-rata (skor IQ AY belum diketahui).
Atau disebabkan oleh perilaku conduct disorder yang ditampilkannya di kelas
yang membuat AY tidak bisa belajar dengan baik.
Kemampuan membaca AY masih setara dengan anak
kelas dua SD. Oleh karena itu untuk persiapan ujian tanggal 10 Desember nanti
Guru SLB menulis pada buku penghubung yang ditujukan untuk Ibu AY agar
mengajarkan AY membaca buku-buku kelas 2A. Baik Guru SLB atau Guru SD sepakat
bahwa kemampuan AY terhadap pelajaran matematika lebih baik dibandingkan
kemampuan AY pada pelajaran lain. Namun pada pelajaran matematika pun ia tidak
meunjukkan minat. Satu-satunya pelajaran yang diminati AY adalah olahraga.
Hanya karena malu dengan teman-teman SD,
AY belum pernah mengikuti pelajaran olahraga di SLB.

 

 

Saran untuk Penanggulangan Perilaku AY

  1. Guru
         konsisten dalam pengendalian peilaku. Jika suatu saat anak dihukum karena
         melakukan suatu pelanggaran dan pada saat yang lain tidak, akan mendorong
         anak melakukan pelanggaran.
  2. memberikan
         imbalan atas perilaku positif. Imbalan dapat berupa barang atau pujian.
         Dan imbalan yang tidak kalah penting adalah perhataian guru. Terkadang
         guru memberikan perhatian justru ketika anak menampakkan perilaku negatif.
         Hasil penelitian menunjukkkan bahwa
         memberi perhatian waktu anak menunjukkan perilaku baik dan mengabaikan
         waktu anak berperilaku tidak baik ternyata membawa hasil positif (Nelson,
         Shermen, Bushell, Jimmerman, dan Kauffmann 1985). Hasil penelitian ini
         mungkin bisa di coba.
  3. memberikan
         kesibukkan.

Guru dapat memberikan pekerjaan terus menerus agar
anak tidak memiliki kesempatan untuk bermain. Misalnya pada kasus hari kedua.
AY memang telah menulis dan
mengerjakan materi ’rantai makanan’ hari
sebelumnya. Dan awalnya guru tidak memerintahkan AY menulis namun dipertengahan
guru memerintahkan AY menulis.
Pada saat seperti ini guru bisa memberi materi lain dan menjelaskan bahwa
materi tersebut harus dipelajari agar ia bisa selangkah lebih maju dibanding
teman-teman yang lain.

  1. Memindahkan
         tempat duduk AY di sebelah siswi tunarungu agar AY tidak terstimulus untuk
         bertengkar.
  2. Memberikan
         remedial untuk memperbaiki kemampuan akademik AY. Terutama membaca dan
         menulis.
  3. Memperhatikan
         dan membimbing AY secara individual ketika AY mengerjakan pekerjaan di
         kelas.
  4. Memanggil
         atau mengadakan home visit (kunjungan ke rumah) untuk lebih mengetahui
         latar belakang keluarga AY. Sekaligus mencari tahu penyebab raport AY
         jarang sekali ditandatangani oleh orang tua. Mencari penyebab perilaku
         negatif AY dan bersama orang tua mencari penanggulangannya.
  5. Melibatkan
         orang tua secara aktif untuk mengatasi perilaku AY. Sehingga tercipta
         lingkungan yang kondusif baik di rumah maupun di sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jangan Iri dengan Bidadari


Written on October 1, 2007 – 8:56 pm | by daksinapati

Allah seringkali menyebut bidadari-bidadari bermata jeli nan jelita sebgai balasan bagi laki-laki yang beriman. Terkadang terlintas dibenak kita, ada gak ya bidadara buat muslimah?. Tulisan ini insya Allah akan menjawab kegelisahan hati muslimah. Tenanglah ya ukhti bukankah Allah Maha Adil?.

            “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai?”(Q.S Al-Anbiya). Itulah kaidah awalnya. Kita tidak perlu sibuk untuk bertanya kenapa Allah melakukan itu dan melakukan ini?. Karena kitalah yang akan ditanya. Kemudian kita tahu bahwa kecenderungan atau syahwat laki-laki terhadap wanita berbeda dengan syahwat wanita terhadap laki-laki (hal ini sudah kita maklumi bersama). Oleh karena itulah Allah membuat kaum laki-laki merindukan syurga dengan menyebutkan  bidadari-bidadari.  Hal ini sebagaimana dsebutkan dalam sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam “Tidaklah aku tinggalkan sebuah fitnah setelahku yang lebih berbahaya terhadap kaum laki-laki melebihi fitnahnya wanita.” (Riwayat Bukhori).

            Adapun wanita kerinduan terhadap perhiasan berupa pakaian dan perhiasan mengalahkan laki-laki. Karena perhiasan merupakan barang yang wanita diciptakan untuk mencintainya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan.” (QS. Az-Zukhruf: 18)

            Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut para istri untuk para suami dikarenakan suamilah yang mencari, dan dialah yang berkeinginan terhadap wanita. Oleh karena itulah istri-istri itu disebutkan untuk kaum laki-laki di syurga, dan mendiamkan penyebutan suami-suami untuk kaum wanita. Bukan berarti tidak ada suami untuk wanita. Bahkan bagi mereka suami dari anak cucu Adam.

            “Sesungguhnya aku telah melihat kalian sebagai penghuni neraka yang terbanyak…” (Riwayat Al-Bukhori). Dalam hadits yang lain “Sesungguhnya penduduk syurga yang paling sedikit adalah kaum wanita.” (Riwayat Muslim). Intinya agar wanita berusaha keras untuk menjadi penghuni syurga dan tidak menjadi penghuni neraka.

Ada

beberapa keadaan wanita ketika meninggalkan dunia. Meninggal sebelum menikah, meninggal setelah menikah, meninggal dalam keadaan janda dll. setiap keadaan itu akan mendapat balasan yang berbeda.

  1. Meninggal sebelum menikah

Allah akan menikahkan dengan seorang laki-laki dunia yang Allah kehendaki. Hmm sempat terbersit pikiran yang agak sedikit nakal: ‘boleh gak ya minta dinikahkan dengan orang yang dulu dicintai di dunia dan belum sempat dimiliki?’ =P he..he..tapi boro-boro kalee kepikiran kayak gitu. Bayangin aja abis melewati

padang

mahsyar, menunggu hasil hisab, melewati siroth huh..it’s a long…long…journey dan ga jadi salah satu penghuni neraka aja udah nikmat banget banget banget! Alhamdulillah…

Syaikh Utsaimin berkata: “Jika seorang wanita belum menikah di dunia, maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menikahkannya dengan suami yang bisa menyenangkannya di Syurga. Maka kenikmatan syurga tidaklah terbatas hanya pada kaum laki-laki, akan tetapi diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan syurga adalah pernikahan.”

  1. Meninggal dalam keadaan ditalak atau janda.

Sama seperti keadaan no.1

  1. Wanita Sholihah yang suaminya tidak masuk syurga.

Sama seperti keadaan no. 1. Syaikh bin ‘Utsaimin berkata: “Jika seorang wanita termasuk penduduk Surga dan dia belum menikah atau suaminya yang dulu (di dunia) bukan termasuk penduduk Syurga maka sesungguhnya jika dia telah masuk Syurga kemudian di sana ada penduduk Syurga yang belum menikah dari golongan laki-laki, maka salah seorang di antara mereka menikahinya.” penulis artikel ini berkata: “Bahkan bisa saja dijodohkan dengan laki-laki yang sekufu’ (sebanding) meskipun laki-laki itu sudah mempunyai isteri lebih dari satu, seperti Asiyah Isteri Fir’aun dan Maryam binti Imran, mereka dinikahkan oleh Allah Subhanahu W Ta’ala di syurga dengan Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Karena tidak ada yang pantas menjadi pendampingnya kecuali Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam. (Lihat tafsir Ibnu Katsir: 4/495 pada

surat

at-Tahrim, Tafsir al-Qurthubi: 18/170, Fathul Qodir: 4/231).

  1. Meninggal setelah menikah.

Tetap menjadi istri dari suami yang ada di dunia dulu.

  1. Menjadi janda karena meninggal dan tidak menikah lagi.

Tetap menjadi istri suaminya di syurga.

  1. Menjadi janda karena meninggal dan menikah lagi.

Menjadi istri dari suaminya yang terakhir di syurga. Sebagaimana sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam “Istri itu untuk suaminya yang terakhir.” (Riwayat Al-Baihqi). Dan berdasarkan perkataan Hudzaifah kepada istrinya: “Jika engkau berkeinginan menjadi istriku di syurga, maka janganlah menikah setelah (kematian) ku, dikarenakan seorang wanita untuk suami-suaminya yang terakhir di dunia. Oleh karena itulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan istri-istri Nabi untuk menikah setelah beliau meninggal karena akan menjadi istri-istri Nabi di Syurga.

Itulah keadaan muslimah di syurga. Setelah membaca tulisan ini semoga kita (akhwat) tidak lagi bertanya-tanya perihal bidadara sebagai tandingan bidadari bagi laki-laki. Karena jelas di syurga nanti wanita akan bersama suami mereka (jika sudah menikah di dunia) dan akan Allah nikahkan dengan penghuni syurga bagi yang belum menikah. dan ada lagi kabar menggembirakan untuk muslimah. Wanita-wanita yang masuk syurga akan kembali menjadi muda dan perawan “Sesungguhnya syurga tidak dimasuki oleh orang-orang tua…sesungguhnya Allah

Subhanahu

 

Wa

Ta’ala jika memasukkan mereka (kaum wanita) ke dalam syurga maka dia akan merubah mereka menjadi gadis-gadis perawan.” (Riwayat Thabrani) dan menurut sebagian atsar kaum wanita dunia akan menjadi jauh lebih cantik jelita daripada bidadari-bidadari karena ibadah mereka kepada Allah Subhanhu Wa Ta’ala. Ya ukhti buat yang punya tampang pas-pasan (seperti saya he..he..) gak perlu berkecil hati. Insya Allah dengan berbekal amal sholeh kita bisa jadi lebih cantik daripada bidadari-bidadari. Jadi tak perlu iri dengan bidadari

kan

?:)

Maka ingatlah kepada Allah, beramallah untuk Allah, gunakanlah segenap kesempatan, karena umur sebentar lagi akan berakhir, dan setelah itu yang ada hanyalah kekekalan. Maka hendaklah kekekalanmu ya Ukhti berada di dalam syurga Insya Allah. Berlomba-lombalah untuk syurga karena mahar syurga adalah iman, amal sholih, dan bukan angan-angan kosong disertai berlebih-lebihan. Ingatlah Ukhti sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam “Jika seorang wanita sholat

lima

waktu, puasa di bulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: “Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu syurga mana saja yang kamu kehendaki.” (Riwayat Ahmad).

Berhati-hatilah terhadap penyeru fitnah dan perusak kaum wanita. Merusak, menghinakan, dan memalingkan kalian dari kemuliaan dan kenikamatan Syurgawi. Janganlah sekali-kali tertipu dengan bujukan, rayuan serta mulut manis orang-orang yang mengajak kepada kebebasan dan kesetaraan gender. Semoga Allah melindungi kita dari fitnah dunia ini. Menjadikan kita anak yang sholehah, istri yang sholehah, ibu yang baik dan menjadi penghuni syurga abadi bersama suami, anak-anak dan keluarga lainnya. Amin…Allahumma Amin..

Terinspirasi, menyalin, dan menambah dari Majalah Qiblati dengan judul ‘Keadaan Wanita di Syurga’ oleh  Sulaiman Shalih al-Kharasyi.

Wahai Sang Istri


Written on September 11, 2007 – 8:36 pm | by daksinapati

Wahai sang Istri ….

Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?

Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya.?!!

Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.!!!

Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami : "Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku".

Berdandanlah untuk suamimu -harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- pakailah parfum, dan bermake up-lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu.

Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.

Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.

Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.

Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lambut, sehingga menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu.

Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat.

Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.

Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.

Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama

surat

Al-Baqarah, karena

surat

itu dapat mengusir syeitan.

Hilangkanlah dari rumahmu foto-foto, alat-alat musik dan alat-alat yang bisa merusak agama.

Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.

Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah berfirman:"Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu" (Al-Ghafir : 60).

Diambil dari kitab " Fiqh pergaulan suami istri " oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi.